Jalur Perdagangan Terpendek dan Rebutan

Advertisements

BUALNEWS.COM — Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk suatu negara dapat berbanding lurus dengan semakin meningkatnya kebutuhan pada sumber energi, seperti halnya yang dialami oleh Jepang. Oleh karena itu, sebagai negara yang miskin akan sumber daya alam, impor energi dari berbagai negara menjadi pilihan Jepang untuk memenuhi permintaan domestiknya.

Dalam seluruh kegiatan impor energi tersebut mode transportasi laut adalah pilihan Jepang yang kemudian membuat keamanan dari jalur-jalur yang menjadi lalu lintas kapal-kapal perniagaan Jepang menjadi penting bagi Jepang.

Selat Malaka dan Laut Cina Selatan kemudian menjadi dua jalur penting bagi Jepang dalam aktivitas impor tersebut karena menjadi rute terpendek yang menghubungkan wilayah bagian Timur dan Barat. Adanya masalah-masalah keamanan yang muncul di wilayah perairan tersebut seperti perompakan dan pembajakan kapal, terorisme maritim, hingga adanya persengketaan maritim kemudian membuat Jepang merasa khawatir akan keamanan di kawasan tersebut sehingga membuat Jepang merasa perlu untuk adanya peningkatan keamanan di kawasan tersebut.

Salah satu upaya Jepang adalah dengan melakukan kerja sama keamanan maritim dengan negaranegara di kawasan tersebut, salah satunya adalah Indonesia. Dengan Indonesia, kerja sama keamanan dalam bidang maritim tersebut dinamai Indonesia-Japan Maritime Forum.

Kedatangan Inggris di Selat Malaka yang berhasil membangun pelabuhan Singapura (1819) dan membangun Hongkong (1842) mengakibatkan hubungan dagang Singapura-Cina (Canton) dan kepulauan lainnya di Asia Tenggara makin berkembang. Dibukanya Terusan Suez (1869) membuat Indonesia melaksanakan politik pintu terbuka (open door policy) tahun 1870.

Baca Juga :  Strategi Mengubah Tesis Menjadi Buku, Langsung Bisa Terbit!

Hal ini membuat jaringan perdagangan di Nusantara Menjadi terbuka dan Indonesia mengalami internasionalisasi karena perusahaan dan Perdagangan barat memasuki Nusantara sehingga dapat mengintegrasikan perdagangan Lokal di Nusantara dengan para pedagang internasional yang memasuki kawasan Nusantara.

Inggris bermimpi menjadi negara laut terbesar dengan membuat jalur Perdagangan yang menghubungkan Singaraja-Selat Lombok menuju Australia dengan Menempatkan subbandar G.P King di Pelabuhan Mataram (Ampenan), untuk membuka Peluang pelayaran dagang dari Eropa (Inggris)-Timur Tengah (terusan Suez)-Singapura. Dari Singapura, jalur perdagangan ini bercabang ke utara menuju Hongkong dan ke Timur menuju Surabaya-Singaraja-Australia lalu menyeberang Amerika Latin (Malvinas), kemudian ke Samudra Pasifik untuk dapat menuju Hongkong dan kembali ke Singapura-India-Timur Tengah dan Eropa. Inggris menguasai Madagaskar dan Sri Langka sehingga memudahkan pelayaran menuju Singapura.

Hasil literasi beberapa karya sejarah dapat dipahami bahwa terjadinya jaringan Perdagangan internasional dalam memasuki Nusantara telah menimbulkan persaingan Yang ketat. Wilayah-wilayah strategis penghasil rempah di Nusantara menjadi rebutan Bangsa Eropa. Selat Malaka menjadi rebutan pedagang Inggris dan Belanda. Di wilayah Lain Nusantara, yaitu di daerah Timor terjadi persaingan pedagangan antara Belanda Dengan Portugis. Hal ini dapat dipahami dengan adanya pusat perdagangan di tiga Daerah, yaitu Singapura yang didominasi oleh Inggris, Kupang yang dikuasai oleh Belanda, dan Timor Timur atau Dili yang dikuasai oleh Portugis. Setiap bangsa Eropa tersebut mengembangkan jaringan perdagangan laut dengan membangun rute-rute kapal Dagang di seluruh Asia dan Afrika.

Di kawasan Asia, terbukanya Jalur Manila-Dili sangat potensial dengan jalur Inggris menuju Australia melalui Nusa Tenggara Timur. Saat itu Dili berada di bawah Kekuasaan Portugis. Belanda yang menguasai Kupang merasa tersaingi oleh Inggris, Spanyol, dan Portugis yang akan mengambil wilayah Kepulauan Solor. Belanda Kemudian menyusun strategi dan bekerja sama dengan penguasa lokal untuk mengusir Portugis dari Benteng Lohayong di Solor. Terusirnya Portugis dari Solor sangat Menguntungkan bagi Belanda karena dapat mengamankan daerah lintas perdagangan Belanda, yaitu Batavia-Kupang. Selanjutnya, daerah Nusa Tengara Timur dikendalikan Oleh Belanda dari pusat pemerintahannya yang dikonsentrasikan di Kupang. Belanda Pun lebih terbuka dalam jaringan perdagangan dan dapat berinteraksi serta bertransaksi Dengan pedagang-pedagang dari Arab dan Cina.

Baca Juga :  Dawami Bin Busri

Datangnya pedagang Cina, Arab, dan Pedagang Eropa yang semakin menonjol sebagai pelaksana aktif dalam perdagangan Jarak jauh mendorong persaingan yang sangat ketat di antara mereka (Parimartha 2016). Persaingan ini menimbulkan tumbuhnya pusat-pusat perdagangan yang tidak hanya di Pinggir pantai, tetapi sampai masuk ke daerah pedalaman.

Kehadiran para pedagang dari berbagai bangsa mulai abad ke-16-sampai dengan awal abad ke-19 di Flores Timur menyebabkan pedagang lokal ikut terintegrasi dari jalur perdagangan tradisional ke dalam perdagangan internasional ketika itu. Seperti juga disebutkan dalam hasil Penelitian Aziz dan Widya (2014) bahwa barang dagangan yang sangat populer, seperti Madu, lilin, dan cendana masuk dalam perdagangan yang lebih luas. Perluasan jalur Perdagangan ini diikuti oleh perkembangan pelabuhan yang semakin banyak di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Penulis: Sri Rahayu Putri, Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Syariah Bengkalis.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *