Quo Vadis Kemenangan

Advertisements

BUALNEWS.COM —  Pesta Demokrasi bernama Pemilu adalah tentang politik dan kekuasaan. Habis pesta Pemilu maka politik dan kekuasan akan kembali bersentuhan untuk jalan beriring dalam proses langkah mengisi di hari-hari kemenangan. Baik yang menang Prabowo-Gibran, Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin maka permainan belum selesai dan pesta belum dan belum berakhir.

Sebab politik kata seorang filsuf abad modern hidup pada zaman Renaisans, Niccolo Machiavelli adalah tentang kekuasaan, sedangkan kekuasaan adalah tentang bagaimana diraih dan dipertahankan. Filsuf dengan buku berjudul  II Prince dengan masa penguasanya adalah Lorenzo De Medici mengatakan kekuasaan juga adalah dunia yang penuh intrik, kekejian dan ketegaaan maka jangan salah kalau dalam penerapanya menghalalkan segala cara adalah menjadi bagian darinya.

Hari ini, Rabu (14/02/2024) mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00 WIB akan menjadi sejarah frase babak baru berdemokrasi dalam mengantar Indonesia Emas 2045 yaitu Indonesia maju dan Indonesia hebat/kuat. Modalnya  menjadi warga negara yang baik dan cerdas dengan datang ke TPS membawa surat undang sebagai pemilih serta KTP maka satu suara anda menentukan masa depan Indonesia. Masa depan Indonesia dengan memilih pemimpin yang berbudi, berakhlak mulia, cinta tanah air,  cerdas dan patriotisme pada ibu pertiwi.

Walaupun bagi Niccolo Machiavelli, politik tidak bisa disatukan dengan moral. Sebab moral, hanya akan membatasi politik dalam mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan maka politik harus menghancurkan, membunuh dan memusnahkan bibit potensi perlawanan yang pada saatnya akan menguburkan tujuan dan dirinya.  Perlahan tapi pasti akan merenggut kekuasaan. Itulah  politik dan kekuasaan dari moral disisi lainnya.

Baca Juga :  Calon DPD RI No 20, Rizal Akbar Unggul Suara di Sebagian Besar TPS Kawasan Riau Pesisir

Pemilu 2024 masih belum berakhir tapi menganalisis secara politik, komunikasi dan masa depan kekuasaan bolehlah. Pemilu 2024 masih akan menyisakan banyak permainan  dari politik dan kekuasaan. Kemenangan dengan lahirnya matahari kembar kemungkinan bakal terjadi. Padahal, tidak boleh ada matahari kembar dalam kekuasaan dan politik. Sebab juga akan menyebabkan politik dan kekuasan ada penghalang. Artinya, baik yang menang Prabowo-Gibran atau Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud maka matahari kembar  dari politik balas budi akan muncul serta mewarnai.

Walaupun memang ketiga Paslon merupakan putra terbaik anak bangsa. Tentu dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Selama masa kampanye dan penyampaian visi dan misi membangun Indonesia sudah disampaikan tinggal memilih yang terbaik dari yang lebih baik. Walaupun berbagai opini publik sudah dikomunikasikan buat ketiga Paslon diluar opini langganan setiap 5 tahun sekali ditambah opini pemazhulan, membentuk Petisi100, BEM bergerak, guru besar bergerak, terbaru film dirty vote dan lainnya melawan strategi monuver senyap dengan  pemainan catur politik kelas tinggi.

Satu hal paling penting adalah usai pesta banyak hal harus dilalui oleh pemenang untuk politik dan kekuasaan. Kalau ditanya maka permainan akan seru-serunya dan akan terus terjadi skak mat kalau yang menang adalah Prabowo-Gibran. Sedangkan kalau yang menang adalah  Anies-Muhaimin maka Anies harus cepat memperkuat posisi tapak politiknya. Bisa bergabung total ke Partai Nasdem atau ke PKS, sebab kalau ini tidak dilakukan maka Anies akan berhadapan dengan rekam jejak politik Muhaimin berpolitik. Kalau bergabung ke Partai Nasdem maka tembok terlalu besar dan kalau bergabung ke PKS maka jamaah politik kuat selalu bersamanya. Lalu, bagaimana dengan Ganjar-Mahfud kalau menang  maka tidak terlalu kuat permainannya.  Permainan politik dan kekuasaan sesungguhnya akan lebih menarik kalau Prabowo-Gibran yang menang maka antara aksi dan reaksi akan menyertai  permainan selanjutnya. Ada permainan sekak mat antara Jokowi dan Megawati bisa-bisa akan berjalan lebih dalam dan membuat warna dan tapak baru dalam perjalaman PDIP kedepannya. Disisi lain, diluat PDIP dan Megawati maka ada sosok SBY dan Partai Demokrat maka jika keduanya mampu mencair maka bangunan mempersiapkan masa depan pemimpin bangsa yang kuat dan berkarakteristik watak Nusantara akan terwujud.

Baca Juga :  Dua Tahun Tidak di SK-kan, 4 PCNU di Riau Kecewa dengan PBNU

Menyatukan tiga kekuatan mantan Presiden RI yaitu keluarga Soeharto, SBY dan Jokowi dibawah kepemimpinan tangan dingin Prabowo adalah menjadi kerja besar. Belum lagi bagaimana kemampuan Prabowo tetap menjaga hubungan harmonis dengan Jokowi. Pasalnya, kemampuan strategi politik senyap Jokowi akan membuat lima tahun kepemimpinannya akan menjadi tapak kuat membangun kekuatan Indonesia dengan nostalgia kejayaan Nusantara. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas politik, keamanan serta mempercepat membuat masyarakat sejahtera adalah menjadi kuncinya. Pesta belum berakhir,  pion dan kuda masih bisa membuat skak mat dari permainan politik dan kekuasaan ini.  Ada Jokowi, SBY, Megawati, Surya Paloh dan langkah besar Prabowo menyatukannya. Semoga ***

@Bandarbakau, 12/02/2024 pukul 10.00 Wib

Penuls: Dawami, Jurnalis Senior Wartawan Utama, Dosen IAITF Dumai dan Pegiat Lingkar Pojok Literasi.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *