Simponi 1 Syawal

Advertisements

BUALNEWS.COM — Begitu matahari terbenam diufuk tinur, sore Ramadhan 1443 Hijrah dan Kementerian Agama mengumumkan 1 Syawal jatuh 2 Mei 2022 maka simponi 1 Syawal pun sangat terasa penuh suka cita.

Makin terasa lagi, usai Shalat Magrib di masjid, mushola dan langgar atau rumah sulup suara takbir dengan mengaggungkan kebesaran Allah SWT pun bergema

Terasa kemenangan dari satu bulan penuh dengan menahan lapar dan dahaga, serta mengerjakan amaliah-amalian dari yang sunat hingga wajib. Tadarus hingga khatam Alquraan berkali-kali kini sudah berlalu dengan masuknya 1 Syawal.

Satu doa yang bisa diajukan kepada Allah SWT adalah semoga dipertemukan Ramadhan tahun akan datang. Sedih meninggalkan Ramadhan, tentulah. Bahagia menyambut hari yang Fitri adalah satu hal lain dari kesedihan tersebut. Tentu telah berhasil melalui Ramadhan dengan nilai ubudiah dan peningkatan ibadah kepada Allah SWT.

Gema takbir, tahlil dan tahmid mulai dari terbenamnya matahari hingga selesai Shalat Sunat 2 Rakaat Hari Raya Idul Fitri adalah menjadi simponi keimanan dan kemenangan di hari yang Fitri. Keindahan, keagungan dan kekuatan takbir, tahlil dan tahid membuat semua mahluk di alam semesta bersujud dan berserah diri. Tak ada yang abadi, berdaya, berkuasa, berkekuatan hanyalah miliknya semata.

Momentum perayaan Idul Fitri sendiri memiliki hakikat dan makna seperti yang dijelaskan Profesor Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Membumikan Al Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Maknanya , Idul Fitri terdiri dari dua suku kata, yakni “id” yang artinya kembali, dan “al-fithri” yang memiliki tiga makna, yakni (1) agama yang benar, (2) kesucian, dan (3) asal kejadian.

Baca Juga :  Toyota Indonesia Terbang Makin Tinggi Berkat Inovasi di Tengah Pandemi

Jika mengambil makna Fitri yang pertama, agama yang benar. Maka, Idul Fitri sudah sepatutnya menjadi momentum bagi umat Muslim untuk menyadari bahwa setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Dan setiap yang ber-Idul Fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan dan dari kesadarannya itu, ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf. Sedangkan, makna kedua dari kata fithri adalah kesucian yang merupakan gabungan dari tiga unsur: (1) benar, (2) baik, dan (3) indah.

Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk berbuat benar, baik, dan indah sebagai bentuk kembali kepada kesuciannya. Dengan kesucian jiwa, seseorang dapat memandang segalanya dengan penglihatan yang positif.

Ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah. Mencari yang indah itu melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika, dan mencari yang benar melahirkan ilmu. Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan, dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan kalaupun itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Ramadhaan telah mendidik kita menjadi insan yang tahu diri. Disamping telah membenruk bagaimana cara kita menemukan komunikasi ilahiah yang tepat kepada sang kholik. Melalui berkomunikasi ilahiah dengan menyadari bahwa kemahlukan dan ketidak berdayaan maka membuat manusia harus mampu menempatkan nilai takwa dari buhul akal, pikiran dan rahasia hatinya menjadi lebih ikhlas, istiqomah, tawaduk dan bersyadah.

Datangnya satu syawal, membuat kita makin tahulah kealfaan diri sebagai mahluk. Oleh sebab itu, saling maaf memaafkan adalah menjadi ikatan utama di hari yang fitri tersebut. ***

Baca Juga :  Membuat Keyword Abadi dalam SEO

Penulis : Dawami S.Sos M.I.Kom, Dosen IAITF Dumai, Jurnalis Senior Wartawan Utama.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *