Manhaj Nahdiyin itu Membahagiakan

BUALNEWS.COM —  Apa yang paling indah, damai, menyejukkan dan memberikan nilai kemanusian dalam beragama adalah Nahdatul Ulama. Dimana ada shalawatan maka kita tinggal pilih shalawat mana yang mau diamalkan sebagai bukti kecintaan pada Nabi Besar Muhammad SAW.

Kalaulah khilaf atau secara lahiriah dan batiniah berdosa pada Allah SWT maka ada istighfar. Kalau dosa agak banyak maka pakai sayyidul istighfar dan kalau dosanya sudah dilakukan berjamaah sehingga perlu dibuat namanya istighosah sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa kita berdosa maka mohon diampunkan.

Kebahagian beragama inilah yang selalu
melekat dalam Nahdatul Ulama dari warga Nahdiyin. Apalagi pola pikir dari landasan etika sosial dalam bentuk tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), i’tidal (jalan tengah) dan tasamuh (toleran) selalu tertanam dengan baik sebagai pemahaman Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Disinilah NU hadir sejak tahun 1926 memberikan jalan kebahagian dalam kehidupan beragama, sosial kemasyarakatan dan berserah diri kepada Allah SWT. Dr HM Rizal Akbar S.Si M.Phil dalam buku Ekonomi Pembangunan Islam juga memaparkan tentang bagaimana seseorang, kelompok, masyarakat hingga negara bisa menjadi membahagiakan yaitu dengan tetap mengingkat Allah SWT dan selalu berada pada jalan lurusnya. (2017:85)

Kebahagian sesungguhnya adalah terpenuhinya seluruh kebutuhan ruhaniyah dan jasmaniyah, yaitu kebahgiaan yang kenikmatannya hanya bisa dirasakan oleh tubuh ruhani bukan tubuh jasmani. Seperti kebahgiaan iman, ibadah, amal shalih atau menolong dan berkorban untuk sesama dan ikhlas dalam segala amal. Inilah kebahagiaan hakiki. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. ” jika amal kebaikanmu membuatmu bahagia dan amal jelekmu membuatmu susah maka kamu adalah seorang mukmin. (HR. Turmudzi)

Disamping basis teologis yang menganut paham Ahlussunnah Waljamaah yang disingkat Aswaja. Melalui tradisi Aswaja sehingga memungkinkan warga NU melihat segala sesuatu secara seimbang dan harmonis. Apalagi Aswaja mencakup aspek akidah, syariat dan tasawuf (akhlak dan etika). Aswaja juga mempertimbangkan aspek tsaqafah (peradaban) dan hadlarah (kebudayaan).

Aswaja sebagai Manhajul Fikr dan Aswaja bukan sebuah mazhab, melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial-kemasyarakatan, inilah makna Aswaja sebagai Manhaj Al-Fikr.

Keberadaan Nahdatul Ulama merupakan organisasi yang didirikan oleh para Kiai, untuk mencari jalan tengah dalam prinsip kehidupan beragama dan bernegara. Konsep jalan tengah inilah yang menjadikan NU selalu punya prinsip yang khas, dengan berpijak pada dalil-dalil Usul Fiqh. Sekaligus tidak meninggalkan nilai-nilai kultural yang membentuk khazanah Islam itu sendiri.

Dalam prinsip akidah Nahdlatul Ulama berpijak paham Ahlulsunnah Wal Jamaah dengan pintu teologi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Sedangkan dalam bermazhab para kiai NU menganut Imam Madzhab empat yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara, buku Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Prof Dr KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa wajah keagamaan di Indonesia menemui kematangannya justru karena bersalin rupa dalam paras Nusantara Islam. Dan kematangan Islam Nusantara menyumbang begitu banyak khazanah budaya karena dilandasi dengan keyakinan agama yang utuh (2015:121)

Gerakan pemikiran yang dikembangkan oleh NU merupakan gerakan pemikiran yang dinamis dalam arti mengikuti perkembangan yang ada. Namun demikian, pemikiran yang dikembangkan tersebut tetap mengacu pada manhaj atau metode berfikir yang dikembangkan oleh empat mazhab yang diakui oleh NU. ***

Penulis: Dawami S.Sos M.I.Kom, Dosen IAITF Dumai, Pegiat Lingkar/Pojok Literasi, Jurnalistik Senior Wartawan Utama.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *