Epistimologi TSR

Advertisements

BUALNEWS.COM — Alquran diberikan kepada manusia agar supaya manusia membuat tatanan kehidupan yang baik. Dimana Alquran merupakan kitab suci/wahyu yang menjelaskan pengetahuan tentang ke Esaan Allah yang dinamakan sebagai Tauhid.

Kaitanya dengan Tawhidi String Relation (TSR) adalah sebuah epistimologi dalam menganalisis berbagai pengetahuan terutama ekonomi islam yang diperkenalkan oleh Prof Dr Masudul Alam Choudhury sejak tahun 2002. Baginya, Tawhidi String Relation (TSR) dimana menjadikan Alquraan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Sedangkan Epistimologi itu sendiri merupakan pengetahuan filsafat dengan objek sebagaimana pengetahuan itu berreproduksi sehingga dalam konteks epistimologi sains maka proses reproduksi itu berakhir dengan metodologi berprinsip positifis. Nyaris suka untuk membedakan antara epistimologi dan metodologi. Padahal keduanya berbeda dimana epistimologi kerangka teoritis yang kebenarannya masih bersifat filosofis. Sedangkan, metodologi merupakan bagian dari epistimologi bersifat sainstifik yang positifis berlandaskan pada rasionalitas dan empiris.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga memberikan rasa atau makna dari ilmu pengetahuan itu menjadi sangat penting. Bagaimana sains ilmu sosial, agama, pendidikan, serta pembangunan sehingga menjadi sesuatu yang menarik dan unik untuk diterapkan. Apalagi manusia dan institusi sebagai ontologinya pengetahuan ini menggunakan berbagai pengetahuan dalam proses analisisnya atau epistimologinya. Sementara aksiologinya adalah bagaimana menciptakan kesejahteraan (well being) dan lainnya.


Proses epistimologi sesungguhnya dari Tawhidi String Relation (TSR) adalah Alquran diberikan kepada manusia agar supaya manusia membuat tatanan kehidupan yang baik. Sehingga berawal dari tuntunan tawhid yang disimbolkan dengan Q(QS), selanjutnya mengeluarkan pengetahuan kepada manusia yang disimbolkan teta (Q). Selanjutnya pengetahuan yang bersumber dari tawhid itu berproses dengan manusia, alam semesta, sistem dan institusi. Proses ini disebut ‘Suratic prose’ yang disimbolkan dengan X (Q). Semua proses pada tahap ini berakhir dengan fungsi kesejahteraan sejagat sebagai bagian dari ‘rahmatun lil alamin’ yang disimbolkan dengan W (Q,X (Q)). Namun proses ini tidak berhenti disitu, dia terus berputar (strings) karena tiap kali proses menemukan fungsi kesejahteraan W (Q,X(Q)) maka dia akan melahirkan pengetahuan tawhid yang baru yang disimbolkan dengan teta new(QN).

Baca Juga :  Pemasaran Politik: Hakekatnya Memasarkan Komuditas Gagasan Politik


Proses yang berputar itu, berawal dari tawhid (Allah) dan berakhir menuju Allah. Namun tiap kali proses itu terjadi maka akan terjadi peningkatan kwalitas fungsi kesejahteraan W(Q,X(Q)), hsl itu disebabkan adanya IJE (Interaction Integration and Evolution) dalam proses suratic proses tersebut.


Memperkenalkan epistimologi ini maka Choudhury (2002) mengatakan dengan terbatasnya pengetahuan manusia mereka tidak dapat memahami mengapa Allah hanya menganugerahkan banyak anak kepada sebuah keluarga. Sementara keluarga lain tidak dikaruniai satu anak pun pada waktu yang sama dan Allah meanugerahkan kepada seseorang dengan kekayaannya dan ada orang yang dianugerahkan dengan kemiskinan. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah adalah Dzat maha mulia yang maha mengetahui dan mampu melakukan segala kehendaknya. Mereka tidak bisa mempertanyakan keputusan Allah SWT tetapi mereka jangan berhenti disini. Mereka dapat belajar dan membahas melalui suratik proses/musyawarah. Sebagai contoh, keluarga tanpa anak-anak dapat terus mencoba berbagai cara yang halal untuk mendapatkan anak-anak. Mereka dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui permasalah mereka. Apalagi pada akhirnya mereka menyadari bahwa adalah mustahil untuk mendapatkan anak, manusia cenderung akan belajar apa hikmah dibalik sesuatu yang terjadi pada mereka umat manusia belajar dan membahas persoalan dengan para ulama dan mendapatkan jawaban yang menenangkan mereka. Bagi orang kaya bersedekah atas sebagian harta kekayaan mereka untuk membantu orang miskin atau anak yatim seperti tercantum dalam Alquran surat Al-maun ayat 1-7 dalam rangka usaha mereka untuk mensyukuri nikmat dan meng-Esakan Allah. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dan manusia bertemu melalui proses musyawarah (suratic proses). Hal ini dilambangkan dengan X (Q).


Dengan pemahaman tersebut hubungan ini manusia dan masyarakat menciptakan tatanan dunia yang berdasarkan pada Alquran dan sunnah dan pengetahuan yang mereka miliki. Oleh karenanya melalui interaksi dan integrasi diantara mereka. Melalui proses perkembangan secara perlahan tersebut muncul. Social wellbeing function . Hal ini dilambangkan dengan W (Q,X(Q)). Dalam masyarakat nyata kita dapat melihat hubungan ini antara sang dermawan dan anak yatim serta orang miskin atau pemeliharaan terhadap anak-anak miskin oleh para orang tua angkat atau orang tua tiri. ***

Baca Juga :  Sidang Sengketa Pilpres di MK Maksimal 14 Hari Digelar

Editor: Dawami S.Sos M.I.Kom

Sumber: Buku Ekonomi Pembangunan Islam Karya Dr HM Rizal Akbar S.Si, M.P.hil

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *