Raja Kecik dan Tengku Buang Asmara: Dialektika Bertamaddun

Advertisements

BUALNEWS.COM — Google map terus memberikan arahan perjalanan kepada kami. Perintah terakhir disampaikan 300 meter belok kanan maka anda sampai ditujuan. Tujuannya adalah Makam Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah, Sultan Johor ke 12 dan Raja Siak pertama di Buantan Lankai, Kabupaten Siak.

Ketika google mengatakan anda sudah sampai tujuan,  jam ditangan menunjukan pukul 12.00 Wib. Dalam hati tentu berkata, ini betul-betul langkah panglima. Tapi itulah buktinya, hajat lama ziarah barulah, hari ini, Rabu (20/3 2023) bertepatan dengan 26 Sya’ban 1444 H berada disini.

Apalagi melewati gerbang  berornamen melayu berwarna hijau sebagai penanda bahwa kita sudah memasuki jalan menuju makam Raja Kecik, walaupun masih dalam 400 meter baru  shznnbxx xampai. Persisnya berada di Jalan Lintas Sei Pakning -Siak yang oleh google  juga menyebut nama daerahnya Kolam Hijau.

Berada pada dua pilihan , apakah jalan lurus atau memilih jalan sebelah arah kiri yang dari jauh sudah terlihat atap dan bangunan makam dirawat dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Siak. Dan akhirnya, memilih jalan sebelah kiri dan tak menduga arah jalan terus adalah jalan menuju parkir yang sudah disiapkan.

Hanya saja, sesuai petunjuk google timbul keheranan kenapa tidak ada kendaraan atau orang berziarah. Sejenak, begitu turun dan mendekati komplek pemakaman. Rupanya, kami salah masuk. Dan aba-aba terakhir diberikan google map adalah jalan atau jarak tempuh terdekat. Akhirnya, kami parkir mobil disamping rumah penduduk yang kebetulan cuma 3 rumah berdampingan dengan makam.

Baca Juga :  Tuan Guru Syekh Zainuddin Rokan

Padahal, disaat bersaman ditempat pakir makam sebenarnya sudah disiapkan parkir yang luas.  Buktinya, terlihat jejeran mobil dan 3 bus bertuliskan nahdatul ulama dari Ukui dengan tujuan berziarah. Sesampai diareal pemakaman kami langsung menuju tempat berwudhu dan langsung berziarah.

Sebagaimana diceritakan dalam Hikayat Siak  bahwa Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah sangat menyayangi dan mencintai istrinya bernama Raja Kamariah anak dari Datuk Bendahara dipersuntingnya saat melanggar Johor dan merebut tahta ayanda Sultan Mahmud Mangkat dijulang dibunuh oleh Megat Sri Rama.  Begitu besar cinta pada istrinya, Raja Kamariah maka tak lama meninggal dunia, Raja Kecil pun uzur. Hingga akhirnya, ia dikebumikan juga tidak jauh dari sang istri.

Sebelum ziarah, tepat pukul 10.20 WIB ngopi dulu di Kedai Kopi 99 persisnya di depan Masjid Raya  Al Amin, Sei Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Dari sinilah kami menelusuri sejumlah desa ada Dompas,  Pangkalan Jambi, Lubuk Muda, Sungai Siput,  Kampung Langkat, Sabak Auh. Dari sini kami ngambil jalan potong di Sabak Auh Permai, dilihat jam sudah pukul 11.10 Wib dan tepat pukul 11.30 WIB sudah melewati Jalan Lintas Siak-Sei Pakning, Kampung Sungai Tengah yang terlihat adalah hamparan kebun jagung.

Sebelumnya, perjalanan kami dimulai dari Kota Dumai dari pukul 07.30 WIB, melalui sejumlah desa yaitu Mundam, Puak/Kemeli, Teluk Makmur, Pelintung, Selingsing. Hingga kami memasuki Kecamatan Bandar Laksaman ada Tanjung Leban,  Sepahat, Tengayun, Api-api, Parit Satu Api-api, Temiang. Dibatasi Sungai Bukit Batu maka masuk sudah Kecamatan Bukit Batu, ada Sungai Musuh, Sukajadi, Bukit Batu, Parit Rodi, Hutan Tinggi, Teluk Air,  Buruk Bakul,  Sarang Rumbio, Pematang Duku, Sungai Selari, Sejangat dan sampailah Kota Sungai Pakning.

Baca Juga :  Sungai Bukit Batu: Antara Eksotis Komunikasi Masa Kecil dan Tatapan Keberkahan Peradaban

Usai ziarah, kami menikmati makan siang di Warung Sop Fauzan, tepatnya di Jalan Lintas Siak-Bunga Raya yang sebelumnya  kami melaksanakan ibadah Sphalat  Zuhur berjamaah sekalian menjamakkan Shalat Ashar terlebih dahulu di Parit Baru Langkai Siak, Masjid Baitul Rohim. Perjalanan ini lebih kepada napak tilas bak kata ungkapan Melayu yaitu ade hulu ade parang, ade dulu maka ade sekarang.

Ziarah di makam Raja Kecil, Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah, Sultan Johor dan Raja Siak Pertama, di Buantan Lankai Siak sebagai penerus peletak kejayaan Kerajaan Melaka didirikan Parameswara atau Raja Iskandar Syah merupakan pendiri sekaligus raja pertama Malaka. Dia mengunjungi Kaisar Yongle di Nanjing, China untuk meminta pengakuan kaudalatan. Menurut A Short History of Malaysia (2003), Kaisar China pun menyetujui maksud Parameswara dan resmi menjalin hubungan diplomasi.

Perjalanan kami teruskan ke makam Tengku Buang Asmara atau Marhum Mempura merupakan gelar posthumous (anumerta) bagi Tengku Buang Asmara atau Tengku Mahkota. Dia merupakan Sultan Siak ke-2 yang bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah dan memerintah tahun 1746–1765. Sekitar tahun 1750, Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah memindahkan ibukota kerajaannya ke hulu negeri Buantan, tepatnya pada sebuah tempat bernama Mempura yang terletak pada sebuah anak sungai bernama Sungai Mempura Besar. Tengku Buang wafat pada tahun 1765 dan dimakamkan di Mempura, sehingga kemudian dikenal dengan gelar Marhum Mempura.

Satu hal paling menarik dari catatan perjalanan ini adalah terkait penamaan nama Provinsi Riau. Adakah sebuah kepantasan atau perlu dilakukan perenungan,  pengkajian atau lebih perlu kembali membaca sejarah. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada pejuang pembentukan provinsi yang lepas dari Provinsi Sumatera Tengah. Tapi kalaulah hari ini, provinsi bernama Riau adalah sebuah hasil kompromi. Jawabannya, bisa ya dan juga bisa tidak. Lalu, dengan nama itu ada yang luka kalau bukan menjadi murka maka jawabannya. Bisa jadi ya. Maka yang paling bersedih hati tentulah Raja Kecil dan Tengku Buang Asmara.

Baca Juga :  Bharat

Kenapa begitu, ketika Riau sebagai sebuah provinsi  pemekaran Sumatera Tengah dengan ibukota pertama adalah Tanjung Pinang maka nama itu masih bisa disandingkan. Tapi tidak untuk ketika Provinsi Kepulauan Riau terbentuk sebagai bundanya nama Riau bermula maka nama Riau harus diluruskan ulang buat sebuah nama Provinsi Riau untuk kabupaten induk bernama Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Indragiri, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru. ****

Penulis: Dawami S.Sos M.I.Kom, Dosen IAITF Dumai,  Jurnalis Senior Wartawan Utama, Pegiat Lingkar Pojok Literasi.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *