Komunikasi dalam Silaturahmi Masa Lalu

BUALNEWS.COM — Alquraan sangat jelas menerangkan melalui banyak pelajaran tentang sejarah masa lalu. Mulai dari kisah memberikan tauladan, kesolehan atas ketaatan kepada Allah SWT hingga kesabaran dengan segala cobaan. Kisah tentang tabiat buruk, penguasa kejam, orang kaya kikir, sombong karena nikmat yang sedikit baru diberi dan kisah lainnya.

Bersilaturahmi dengan sejarah masa lalu harus dijadikan benang merah dalam mencari keberkahan masa kini dan akan datang. Sebab, sejarah akan terus berulang dengan alur, pepat dan pangkal dari orang yang hanya berbeda saja.

Dalam sebuah diskusi dengan Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, KH Amrizal M.Ag bahwa keberkahan hari ini juga disebabkan dengan kita selalu berkonunikasi dan bersilaturahmi dengan masa lalu. Terutama keharusan bersilaturahmi dengan orang-orang sholeh, ulama, alim yang karena kealimannya semoga keberkahan itu juga mengalir kemasa kita hari ini. Ibnu Khaldun, ilmuan tokoh sosiologi Islam aja mengatakan sejarah pasti akan berulang. Kearifan dari memaknai setiap proses kehidupan sejarah adalah.menjadi hal yang utama.

Oleh sebab itu, memaknai dan belajar tentang kaji asal dengan hadirnya filosofi hidup dari ruh batiniah dengan memanfaatkan setiap hela nafas kehidupan adalah menjadi sangat penting. Apalagi memaknai kaji asal sebagai nilai spritual dalam memperkuat silaturahami dengan sejarah, tokoh, ulama, guru dan orang alim, soleh yang ma’arifatkan dirinya di jalan lurus dari adanya Allah SWT.

Keruntuhan, kejayaan dan kembali pada posisi diambang kehancuran nilai spritual generasi mudanya dengan tingginya tingkat bunuh diri adalah menjadi titik dari.keberanian Jepang dan Korea sebagai negara maju untuk melajutkan kaji asal. Jepang sebagai negara maju dan demikian dengan Korea maka kembali ke kaji asal adalah menjadi jawaban ruh mengembalikan bersilaturahmi dengan sejarah masa lalunya. Akibatnya, kejayaan dan kemajuan yang telah dicapai dapat dipertahankannya

Padahal dulunya juga orang Melayu sangat pandai dalam melakukan kaji asal. Orang melayu mulai dari Aceh, Deli, Serdang, Riau, Kepulauan Riau Jambi, Palembang, Betawi, Kalimatan, Sulawesi adalah orang melayu berani, cerdas dan menjaga kekompakan dalam rangka dengan tidak melupakan menjaga gerbang masing-masing sehingga orang tidak masuk melalui pintu dan tingkap mereka masing-masing.

Dan bukan pula, pola masyarakatnya tidak dinamis atau menutup diri tapi menjaga spritual dari kaji.asal adalah utama. Orang melayu pastilah Islam sebagai kekuatan nilai kultural, spritual dari jati diri. Tapi hari ini, kita jadi Melayu tapi kita juga sebenarnya tak jadi Melayu. Demikian pengistilahan kekinian dari Budayawan Riau, Syaukani Alkarim.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya juga mengatakan melihat sejarah maka harus tahu. Apabila sebabnya sama maka akan berakibat sama pula. Baginya, fenomena-fenomena peradaban bukanlah sebatas rangkaian peristiwa, cerita sejarah yang berkaitan dengan kita, umat manusia, tetapi suatu fenomena-fenomena yang akan mengantar kita pada hukum perkembangan masyarakat dan peradaban manusia. Tapi perlu dingat bukanlah suatu yang datang dan pergi tanpa sebab dan spontan. ***

*tjpldm, 4//12/2021pukul 16.00wib.

Penulis: Dawami S.Sos M.I.Kom, Dosen IAITF Dumai, Pegiat Lingkar/Pojok Literasi, Jurnalistik Senior Wartawan Utama.

You May Also Like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.