Mengenal Mahasiswa Kupu-kupu dan Mahasiswa Kura-kura

Advertisements

BUALNEWS.COM — Dalam dunia perkuliahan kita sering mendengar istilah mahasiswa kupu-kupu dan mahasiswa kura-kura. Apakah kalian tau apa itu mahasiswa kupu-kupu, dan apa itu Mahasiswa Kura-kura? Tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita sebagai seorang Mahasiswa.

Istilah ini sering kita dengar di bangku kuliah dimana, Mahasiswa Kupu-kupu merupakan kepanjangan dari kuliah pulang kuliah pulang. Tipe mahasiswa yang seperti ini biasanya mempunyai ciri khas dimana mahasiswa tersebut memiliki sifat introvert , pemalas, pemalu, skeptis, no life, dan lain sebagainya. Mahasiswa kupu-kupu cenderung tidak suka untuk mengikuti serangkaian aktivitas organisasi yang ada dikampus,mereka biasanya akan pulang jika perkuliahan sudah selesai tanpa berkontribusi di kegiatan dengan mahasiswa lainnya.

Sebaliknya, Mahasiswa Kura-kura adalah kepanjangan dari mahasiswa kuliah rapat kuliah rapat. Istilah ini sering dipakai untuk mendefinisikan seorang mahasiswa yang sering terlibat didalam kegiatan baik itu internal maupun eksternal kampus seperti halnya, organisasi, kepanitiaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan kegiatan lainnya. Menjadi mahasiswa kura-kura pastinya harus memiliki pembagian waktu yang baik antara kesibukan dalam perkuliahan dan kesibukan kegiatan organisasi.

Masih banyak orang yang seringkali membanding-bandingkan antara kedua istilah mahasiswa tersebut. Dimana orang beranggapan bahwa ‘mahasiswa kura-kura nantinya akan lebih sukses dan maju dibandingkan dengan mahasiswa kupu-kupu’. Anggapan ini berasal dari penilaian orang bahwasanya mahasiswa kupu-kupu itu kurang pergaulan, malas, introvert dan lainnya. Namun, apa iya?

Jawabannya, tidak tapi semua kembali pribadi mahasiswa tersebut. Dilansir dari artikel Kwik Kian Gie School of Business (04/08/2020) bahwasannya ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menjadi mahasiswa kupu-kupu. Misalnya, dapat mengerjakan tugas dengan fokus, dapat mengikuti jadwal perkuliahan dengan baik, mempunyai kesempatan untuk lulus lebih cepat, meningkatkan indeks prestasi, bisa meng-asah soft skill, hobi, bisnis serta dapat melakukan eksplorasi kegiatan baru.

Baca Juga :  Inilah Contoh Pertanyaan Wawancara Seleksi Program Guru Penggerak

Harus diakui bahwa bagi segelintir orang, julukan mahasiswa kura-kura menjadi salah satu tolok ukur mahasiswa ideal. Sebab, oleh karena itu mahasiswa tersebut dianggap memiliki kontribusi yang besar terhadap kampus, bahkan masyarakat luas. Melalui pemahaman seperti ini, mahasiswa kura-kura mendapatkan stigma/nilai yang lebih positif dibanding dengan mahasiswa kupu-kupu karena sejalan dengan visi “agent of change”. selain itu mahasiswa kura-kura lebih cenderung memiliki banyak kemampuan seperti halnya mempunyai banyak relasi,, public speaking yang bagus, kuat mental serta berpengalaman dalam berorganisasi berpeluang besar untuk kesempatan terjun dalam dunia kerja. Meskipun demikian, belum tentu mahasiswa kura-kura lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa kupu-kupu.

Pada dasarnya, menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura pasti memiliki sisi positif dan negatifnya, namun yang terpenting kamu dapat mengelola waktu dengan baik dan bisa lulus kuliah sesuai target. Mahasiswa yang terlalu aktif tanpa diimbangi dengan manajemen diri yang baik, dapat melalaikan kewajiban utama menjadi mahasiswa. Sebaliknya, apabila menjadi mahasiswa yang terlalu pasif dan tidak memiliki pengalaman organisasi sama sekali juga akan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan setelah lulus.

Kesimpulannya, setiap pribadi mahasiswa memiliki pandangan/preferensi masing-masing. Setiap mahasiswa memiliki hak kebebasan sendiri dalam menentukan bagaimana kehidupan kuliah akan dijalankan. Hal terpenting di sini adalah masa kuliah harus diisi dengan hati gembira karena ini merupakan kesempatan untuk eksplorasi potensi yang dimiliki, melakukan apa yang diinginkan sejauh disertai dengan komitmen, rasa tanggung jawab dan orientasi jangka panjang serta harus memiliki intelektual dan moral yang baik saat lulus kuliah. ***

Penulis: Puspita Septiani Sujana, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bengkalis

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *