Utamakan Kebutuhan Dibandingkan Keinginan

Advertisements

BUALNEWS.COM — Pandemi telah menyebabkan percepatan transformasi digital lebih lanjut secara global. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini, segala hal dapat dilakukan secara online pembelian dengan mudah dilakukan hanya dengan sekali klik. Berbagai e-commerce juga semakin mencuri minat masyarakat dengan menawarkan keuntungan seperti diskon, gratis ongkir, serta cashback membuat masyarakat semakin rajin belanja melalui online. Kondisi ini, menyebabkan konsumen tergoda dan tertarik sehingga menjadi lebih konsumtif, dan berbelanja secara berlebihan di luar batas kebutuhan.

Kemunculan berbagai macam platform juga semakin memudahkan masyarakat. Sebagai contoh sayur dan dan buah-buahan yang identik dibeli di pasar kini sudah beralih ke website maupun aplikasi yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun, Berbelanja secara online justru dianggap efesien dari segi waktu sehingga menjadi primadona di tambah lagi ada aplikasi yang bisa menggunakan sistem cicilan dalam membeli barang tanpa menggunakan kartu kredit.

Perilaku konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang tidak terlalu diperlukan oleh individu yang bersangkutan, dalam psikologi dikenal dengan istilah compulsive buying disorder. orang yang terjebak di dalamnya tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan tetapi hanya sekedar untuk mencapai kepuasan tanpa ada perencanaan. Ada dua Aspek saat seseorang untuk memilki produknya yang pertama adalah membeli barang semata mata didasarkan pada keinginan dan secara tiba tiba tanpa melalui perencanaan, yang kedua pembelian barang yang didasarkan pada sifat emosional karena hanya mengikuti trend gaya hidup (lifestyle).

Menurut Viktor Frankl, seorang ahli saraf dan psikiater asal Austria mengungkapkan, bahwa masa tunggu tiga hari untuk menciptakan ruang antara stimulus barang yang ingin dibeli dan respons melakukan pembelian. sebelum melakukan pembelian apapun yang sifatnya tidak mendesak cobalah ambil waktu untuk memikirkan selama 3 hari atau 72 jam itu merupakan waktu terbaik untuk menunggu.

Baca Juga :  Moderasi Beragama di Thailand

Untuk menghindari perilaku konsumtif/ shopaholic penting bagi kita untuk selalu bijak dalam berbelanja. pikirkan dengan matang setiap ingin melakukan pembelian jangan sampai besar pasak dari pada tiang, bersenang senang menggunakan pendapatan yang kita dapat, tapi jangan bersenang senang melebihi apa yang kita terima. Dalam kitab Tafsir Al-Jalalain karya Jalaluddin al-Mahali dan Jalaluddin as-Suyuti disebutkan, orang-orang yang boros ialah mereka yang mengikuti jalan setan. Perilaku boros masuk dalam kategori tercela. Setan kerap mengajak manusia untuk hidup pelit dan boros keduanya bertolak belakang, saling berada di kutub sebrang yang cenderung seperti jurang. Pelit tidak dianjurkan, boros pun demikian. Sebab perilaku konsumtif yang tidak dikontrol akan menjadi ancaman serius bagi kondisi keuangan.

Dengan adanya discount promo, hadiah, bahkan cashback sekalipun, jangan membuat kita mudah tergitu. Sebaiknya lakukan beberapa langkah berikut ini; seperti, tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut dibutuhkan? Jika iya, buatlah skala prioritas. Tentukan anggaran belanja, kendalikan rasa penasaran, uninstall situs belanja online, cari aktivitas positif, perkuat dana darurat dan selalu bersyukur serta menahan diri dari godaan untuk berbelanja secara berlebih-lebihan. Jangan sampai virus boros datang menyerang. ***

Penulis : Eryana,SE.I,MM, Dosen STIE Syariah Bengkalis

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *