Alam Melayu dari Sudut Pemikiran dan Pengertian

Advertisements

BUALNEWS.COM — Alam Melayu menunjukkan beberapa pengertian yang berbeda, yang berasal dari beragam interpretasi mengenai Kemelayuan, baik sebagai kelompok rasial, sebagai suatu kelompok linguistik, atau sebagai kelompok kultural politik. Penggunaan istilah “Melayu” di sejumlah besar konseptualisasi terutama didasarkan pada pengaruh budaya Melayu lazim, yang terwujud secara khusus melalui penyebaran bahasa Melayu di Asia Tenggara seperti yang diamati oleh kekuatan kolonial yang berbeda selama Zaman Penjelajahan.

Konsep ini dalam jangkauan teritorial terluasnya dapat diterapkan untuk suatu kawasan yang identik dengan Austronesia, tanah air bagi suku bangsa Austronesia, yang membentang dari Pulau Paskah di timur ke Madagaskar di Barat. berasal dari pengenalan istilah ras Melayu pada akhir abad ke-18 yang telah dipopulerkan oleh orientalist untuk menggambarkan suku bangsa Austronesia. Dalam arti yang lebih sempit, dunia Melayu telah digunakan sebagai Sprachraum, mengacu pada negara dan wilayah berbahasa Melayu di Asia Tenggara, di mana standar bahasa Melayu yang berbeda adalah bahasa nasional, atau variasinya adalah bahasa minoritas yang penting. Istilah tersebut dalam pengertian ini mencakup Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan, dan kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan konsep “Kepulauan Melayu” dan “Nusantara”.

Sebagai alternatif, para sarjana modern memperbaiki gagasan dunia Melayu yang diperluas ini, alih-alih mendefinisikannya sebagai suatu area politik dan budaya. Dalam konteks ini, dunia Melayu direduksi menjadi suatu kawasan yang merupakan tanah air bagi orang-orang Melayu, yang secara historis diperintah oleh kesultanan-kesultanan Melayu yang berbeda, di mana berbagai dialek bahasa Melayu dan nilai budayanya adalah dominan. Daerah ini meliputi Semenanjung Malaya, daerah pesisir Sumatra dan Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di antaranya.

Baca Juga :  Persaingan Perekonomi di Kabupaten Bengkalis

Penggunaan konsep ini yang paling menonjol adalah pada awal abad ke-20, yang dianut dengan gaya iredentis, oleh para nasionalis Melayu dalam bentuk “Indonesia Raya (politik)” (Melayu Raya), sebagai aspirasi untuk perbatasan “alami” atau yang diinginkan dari sebuah bangsa modern bagi ras Melayu. Istilah “Alam Melayu” tidak ada sebelum abad ke-20. Sastra-sastra Melayu klasik seperti Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah tidak menyebutkan istilah semacam ini. Istilah ini baru berkembang setelah tahun 1930, dengan contoh pertama yang tercatat berasal dari Majalah Guru, sebuah majalah bulanan negeri Malaya, dan koran Saudara, yang diterbitkan di Penang dan beredar di seluruh Negeri-Negeri Selat. Istilah “Alam Melayu” berkembang dan menjadi populer setelah munculnya gerakan nasionalisme Melayu pada perempat kedua abad ke-20. Berbicara alam tentang melayu, Apa itu alam melayu? Alam melayu atau biasa disebut juga dengan dunia melayu adalah istilah yang sudah lazim dipakai untuk Merujuk pada Maritim Asia Tenggara.

Alam melayu adalah sebuah konsep atau ungkapan yang telah digunakan oleh penulis dan kelompok yang berbeda dari waktu ke waktu untuk menunjukkan beberapa pengertian yang berbeda, yang berasal dari beragam interpretasi mengenai kemelayuan, baik sebagai kelompok rasial, sebagai suatu kelompok linguistik, atau sebagai kelompok kultural politik . Alam bagi masyarakat melayu riau adalah suatu hal yang sangat penting, karna bagi mereka disanalah tempat mereka untuk mencari penghidupan. Tak hanya itu, selain untuk mencari nafkah alam juga merupakan kewajiban mereka untuk tetap menjaga. Kewajiban itu dilihat dari pepatah “kalau binasa hutan yang lebat. Rusak lembaga hilanglah adat”. Pepatah ni mengatakan bahwa jika semisal alam binasa, adat pun juga akan binasa.

Baca Juga :  Cerita Menggunakan Bahasa ‘Tuan’ Melayu Riau dan Malaysia

Sedangkan definisi dari Melayu sendiri merupakan kelompok etnis/etnik Austronesia yang menghuni Semenanjung Malaya, seluruh Sumatra, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Kalimantan termasuk pesisir Brunei, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Pesisir Sarawak & Sabah, Filipina bagian barat dan selatan, dan pulau-pulau kecil yang terletak disekitar lokasi ini secara kolektif dikenal sebagai “Dunia Melayu”. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina.

Ketika membahas konsep alam melayu, Dr Burhanuddin al-Helmy mengatakan seluruh gugusan kepulauan melayu termasuk tanah melayu, Indonesia dan Filiphina adalah daerah melayu. Daerah-daerah tersebut terpisah karena dipecahkan oleh penjajah Barat. Takrif ini selari dengan definisi Encyclopedia Britainica Vol. 14 yang menyebutkan “Kepulauan Melayu, juga dikenal sebagai Malaysia dan Hindia Timur, merupakan kelompok pulau terbesar di dunia yang terdiri dari lebih dari 3.000 pulau di Indonesia dan 7.000 pulau serta gugusan batuan yang tidak disebutkan namanya di Filipina. Pulau New Guinea secara sewenang-wenang dimasukkan ke dalam Kepulauan Melayu.” Kawasan rumpun Melayu meliputi seluruh Negara Indonesia, Filipina, Brunei, Singapura dan Malaysia. Sedang di Thailand, Wilayah Melayu adalah seluruh Semenanjung hingga Ratchaburi, 100km di Selatan Bangkok. Tenasserim (Tanah Seri) di Myanmar juga termasuk kawasan Melayu. Di sebelah Utara ia bermula di Kepulauan Nicobar di Lautan Hindi dan Farmosa di Laut Cina, termasuk Indo-China hingga ke Kepulauan Solomon di Selatan. Dari Barat, ia bermula di Madagaskar hingga ke Fiji. Kawasan kepulauan terbesar di dunia di Asia Tenggara inilah yang diminati rumpun Melayu dan menjadi daerah kehidupan bagi orang Melayu. ***

Baca Juga :  Konsep Uang dan Peranannya Dalam Kegiatan Ekonomi di Era Digital

Penulis : Riki Zulhelmi, Mahasiswa STIE Syariah Bengkalis
(Memenuhi Tugas Mata Kuliah Alam dan Tamadun Melayu)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *