Memaknai Komunikasi Belajar Pandemi

SETAHUN sudah, sejak tahun 2020 hingga sekarang sudah 2021 dan 2022 berjalan memasuki pertengah bulan di Januari maka proses pembelajaran mengalami gelombang tsunami akibat serangan pandemi COVID-19.

Malah peneliti di Siprus mengklaim telah menemukan varian virus corona baru yang menggabungkan karakteristik virus varian delta dan virus omicron yang oleh profesor ilmu biologi dan kepala Laboratorium Bioteknologi dan Virologi Molekuler disebut “deltacron.” Sedangkan deltacron, menurut para ahli memiliki tanda genetik mirip omicron di dalam genom delta. Pemerintah melalui Menteri Kesehatan memprediksi ledakan akan terjadi di bulan Februari.

Pertanyaannya, bagaimana dengan proses pendidikan kita. Sebab hingga akhir 2021 yang terjadi adalah semua perencanaan pembelajaran yang telah disusun tidak berjalan sesuai rencana, bahkan mengalami revolusi dalam dunia pendidikan. Dan sekarang sudah muncul pula varian baru Omicron dan deltacron.

Proses pembelajaran berbasis tatap muka kelas mengalami revolusi total, beralih pada proses pembelajaran berbasis internet (daring) akibat pandemi COVID-19. Ruang pembelajaran di kelas-kelas sekolah, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, sekolah Menengah (SMP/SMA/Tsanawiyah/Aliyah), sekolah-sekolah non fomal, pesantren hingga perguruan tinggi berhenti secara serentak sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia awal Maret 2020. Pada pertengahan Maret 2020, pemerintah secara resmi melarang adanya pembelajaran di sekolah berbasis tatap muka langsung dan dialikan pembelajaran berbasis daring.

Komunikasi pembelajaran sejak pertengahan maret 2020 mengalami revolusi, ruang kelas yang biasanya dipenuhi siswa berubah menjadi ruang-ruang kosong tanpa penghuni. Dalam perspektif magis, ruang-ruang kelas ini mungkin sudah dipenuhi oleh makhluk gaib yang memanfaatkan kekosongan ruang kelas tersebut.

Kelas berubah dan berada dalam setiap rumah-rumah siswa, guru tidak lagi datang ke sekolah atau kampus untuk menyampaikan materinya. Guru cukup berada di rumah atau tempat yang memungkinkan untuk memberikan materi ajar kepada siswa. Modal utama guru dan siswa dalam pembelajaran daring adalah media pembelajaran berupa handphone atau komputer/laptop, dan paket data sebagai basis jaringan internet.

Setting new normal dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan mempersiapkan modal utama pembelajaran sebagai media ruang pembelajaran berbasis daring. Pertama, Setting New Normal dalam pembelajaran dapat di mulai dari modal utama yaitu jaringan internet. Ketersediaan jaringan internet menjadi kunci utama selain adanya guru dan siswa dalam proses pembelajaran daring. Sayangnya, kesiapan jaringan internet di seluruh Indonesia belum merata dapat terjangkau oleh seluruh masyarakat. Hal ini merupakan tantangan riil yang terjadi pada pembelajaran masa pandemi.

Selain jaringan internet, yang perlu kesiapan adalah aspek sumber daya manusia, yaitu guru dan siswa. Sudahkah semua guru dan siswa tidak mengalami “gagap teknologi”. Penguasaan teknologi aplikasi pembelajaran menjadi elemen yang mempengaruhi proses pembelajaran daring. Para guru harus menyiapkan materi berbasis daring, dan siswa harus siap memahami materi melalui pembelajaran daring. Sebuah perubahan cepat yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran.

Kedua, setting new normal dalam pembelajaran dapat dilakukan secara tatap muka kelas sebagaimana lazimnya tatap muka kelas sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Ketentuan New Normal dalam pembelajaran kelas tatap muka langsung harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Pertama, Setiap guru dan siswa wajib mengggunakan masker atau face shield dalam proses pebelajaran. Ketentuan protokol ini akan melahirkan suasana kelas yang kurang interaktif sesuai kebutuhan pembelajaran. Kedua, Setiap elemen pembelajaran, guru dan siswa harus menjaga jarak (physical distancing). Ketentuan ini akan menyebabkan keterbatasan ruang kelas, mengingat setiap ruang pada umumnya berisi siswa antara 30-40 siswa. Jika ketentuan jaga jarak dilakukan maka akan menata ulang jumlah kelas menjadi 20 siswa dalam setiap ruang kelas.

Problem ini tidak hanya berdampak bertambahnya jumlah kelas yang diperlukan untuk tatap muka kelas, tetapi juga berdampak pada keterbatasan tenaga guru dalam melakukan proses pembelajaran. Ketiga, setiap elemen pembelajaran harus selalu melakukan dan rajin cuci tangan, selalu membawa hand sanitizer, dan menjaga kebersihan. Konsekwensi ketentuan ini adalah adanya ketersediaan fasilitas cuci tangan dalam setiap skolah dalam jumlah yang banyak.

Pengalihan pembelajaran berbasis daring tentu membuat semua orang terasa tersentak, dan berusaha fokus pada pembelajaran berbasis daring. Secara umum, elemen yang paling berkaitan erat dengan pembelajaran berbasis daring ini adalah guru dan siswa. Pada konteks tertentu, pada siswa kelas sekolah dasar, bahkan sekolah lanjutan pertama mungkin masih memerlukan peran pendamping dalam pembelajaran daring yaitu orang tua atau orang sekelilingnya yang bertanggungjawab dalam membantu proses pembelajaran daring bagi anaknya.

Suasana pembelajaran dalam kondisi normal, kelas-kelas dipenuhi dengan tatap muka formal pembelajaran. Guru mempersiapkan materi ajar yang akan disampaikan di depan kelas, bahkan mungkin terjadi pada sebagian guru tanpa persiapan karena dianggap telah menguasai materi yang setiap hari disampaikannya. Gelak-tawa-riang ikut menyertai pembelajaran kelas dalam kondisi normal yang membuat siswa dan suasana kelas terlihat dinamika interaktifnya. Pembelajaran tatap muka dalam kelas memberikan sentuhan motivasi dan semangat belajar yang berbeda dengan kelas daring.

Pembelajaran tatap muka kelas dalam perspektif komunikasi dikategorikan sebagai komunikasi publik dalam kelompok kecil. Sang guru sebagai komunikator publik skala kecil dalam kondisi normal mekalukan persiapan yang matang untuk tampil dihadapan siswanya. Berpakaian rapi, bahkan mungkin sebagian memakai dasi, dan berjas. Semua dilakukan dalam rangka menciptakan suasana yang nyaman dan interaktif dalam kelas yang membuat sentuhan manusiawianya ketika komunikasi terlihat dan mampu memompa semangat siswa dalam belajar.

Komunikasi publik atau komunikasi pembelajaran dalam kelompok kecil dapat berupa tatap muka pembelajaran di kelas-kelas, kelas Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajat, bahkan kelas pembelajaran di perguruan tinggi, diskusi-diskusi dan seminar atau workshop yang memiliki peserta tidak lebih dari 40 orang. Komunikasi publik dalam skala kelompok besar dapat berupa pidato umum dihadapan khalayak dalam jumlah besar, ratusan, bahkan ribuan. Komunikasi publik ini dapat berupa pengajian akbar, kampanye politik, panggung hiburan, dan lain-lain.

Seorang komunikator pembelajaran (guru) pada saat normal melakukan persiapan terkait dengan materi yang disampaikan, membangun kredibilitas sebagai komunikator (guru), mengenali karakter khalayak atau audiens (siswa), dan memahami teknik-teknik retorika untuk publik. Pada saat New Normal, persiapan seorang komunikator pembelajaran (guru) perlu mengetahui dan memahami jenis-jenis teknologi informasi berbasis internet, cara pengambilan gambar yang menarik, penggunaan bahasa yang padat dan berisi, mengenali karakter netizen (siswa), penggunaan aplikasi internet yang familier, dan persiapan alat teknologi sebagai basis penyampaian materi. Seorang komunikator publik (guru) pada saat normal dapat secara langsung menyampaikannya pada publik umum (siswa), bahkan tanpa persiapan. Pada saat New Normal seorang komunikator publik (guru) harus mempersiapkan materi dan teknologi internet sebagai media penyampaian pesan. ***

  • Dawami, S.Sos M.I.Kom, Dosen IAITF Dumai, Ketua LPM IAITF Dumai, Penggiat Lingkar/Pojok Literasi, Jurnalis Senior Wartawan Utama 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.